Sunday, November 13, 2016

PERNAK-PERNIK MANCING DI MUSIM BARATAN



By: Admin

 Baraya dan sobat mancing...jumpa lagi dengan admin GMBA
Cerita kali ini pengalaman GMBA (Giriwil Mania Bandung Angler) menghadapi tantangan dan kenikmatan sea fishing pada masa-masa “musim barat” di perairan Laut Jawa. Tegang ... tapi bisa NGAKAK...
Tanggal 11 November 2016, seperti biasanya, para anggota tim GMBA telah bersiap-siap melakukan petualangannya untuk merasakan tarikan ikan-ikan laut utara Jawa Barat. Lokasi tujuan masih tetap seperti yang dituju selama tiga bulan terakhir, yaitu lepas pantai Eretan Kabupaten Indramayu.
Selepas maghrib, enam orang anggota tim yang bisa turut serta telah melesat ke lokasi lengkap dengan peralatan tempurnya. Tiba di Eretan Kulon sekitar pukul 23.30 WIB setelah sekitar satu jam lebih berkeliling di pasar Kandanghaur untuk membeli umpan (udang) dan es balok.
Namun, keadaan di daerah nelayan yang biasanya malam-malam seperti itu masih banyak orang yang nongkrong atau warung yang buka. Saat itu, tampak begitu sepi. Tak seorangpun terlihat keluar rumah. “Naha nya??? Teu jiga biasana...Sasarina gé sok aya nu nongkrong atawa ka luar mesing tengah peuting ogé” (Mengapa ya???, tidak seperti biasanya...Biasanya suka ada yang nongkrong atau keluar rumah meskipun tengah malam), begitu kata Pak Mumu sambil terus mengendalikan mobil yang kami tumpangi dengan hati-hati menuju rumah seorang nelayan yang telah dikontak sebelumnya untuk bisa mengantar kami ke tengah laut. Rumahnya tidak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Eretan Kulon.
Tiba di rumah nelayan yang dimaksud, kami pun disambut tuan rumah. Informasi dari mereka katanya saat ini angin sedang kencang berhembus. Pantas saja di wajah mereka tampak tidak begitu semangat merespon kedatangan kami. Tapi, kami merasa kondisi itu tidak berbahaya. Informasi yang kami dapatkan mengenai keadaan cuaca maritim untuk malam itu, 11 November 2016, di wilayah perairan laut Eretan, kecepatan anginnya antara 5-33 km/jam, tinggi gelombang laut antara 0,3-0,8 meter, kondisi cuaca berawan. Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan nelayan yang akan mengantar kami, akhirnya diputuskan berangkat ke tengah laut, tetapi ke daerah-daerah yang dekat dulu sambil memantau perkembangan kondisi cuaca perairan laut, dan sekitar pukul 02.15 WIB kami pun berlayar dari dermaga. Enam orang anggota tim GMBA (Pak Endang, Pak Mumu, Pak Pratman, Pak Edi, Pak Uan, dan admin) disertai dua awak perahu bergerak menuju spot pertama yang disarankan mas nelayan, spot “Saeran”.
Lokasi spot ini, tidak jauh dari pantai, sekitar satu jam perjalanan menggunakan perahu bermesin tempel dua buah (masing-masing 21 PK). Tiba di lokasi, tampak petir berkilat-kilat jauh di sebelah utara, sementara suara gemuruh guntur terus bergema terdengar sayup-sayup. Namun syukurlah kondisi gelombang air laut relatif kecil dan tudak terjadi hujan di sekitar lokasi kami. Di lokasi itu, para awak perahu menghentikan perahunya dan mulai menurunkan jangkar. Wajah mereka terlihat tidak ceria. “Semoga saja mereka mau melayani dengan baik selama kami memancing”, begitulah harapan saya ketika itu.
Di situ, kami pun mulai mencoba melempar kail. “Ah...dangkal juga rupanya kedalaman laut di tempat ini”, gumamku dalam hati. Paling hanya 10-15 meter. Namun terasa sekali kalau di dasarnya banyak lumpur...”Waah bisa-bisa ikannya jarang nih”, kembali saya bergumam dalam hati. Tetapi kami terus mencoba.
Memang, wilayah perairan laut pesisir utara Jawa, khususnya di utara Jawa Barat, merupakan daerah perairan laut yang landai, sehingga dalam jarak 10 km dari garis pesisir mungkin kedalamannya tidak lebih dari 20 meter. Selain karena wilayahnya yang merupakan dangkalan benua (continental shelf) yang sering disebut “Dangkalan Sunda” dengan kedalamannya antara 0-200 meter dimana proses erosi dan sedimentasi marin masih efektif bekerja terhadap dasar laut, juga karena posisi wilayah lautnya yang berada di antara beberapa pulau besar (laut pedalaman) dimana kekuatan gelombang dan arus air lautnya tidak begitu besar, membentuk dasar Laut Jawa yang relatif datar atau landai. Berbeda dengan perairan laut di selatan Jawa yang merupakan merupakan samudera dengan gelombangnya yang tinggi, arusnya kuat, dan dasar lautnya yang sangat dalam.
Satu jam waktu berlalu, belum satu ekor ikan pun yang menyantap umpan. Mulailah terdengar keluhan anggota tim, bahkan aku mencoba membujuk awak perahu untuk memindahkan posisi perahu sedikit mendekati anjungan pemboran minyak bumi yang tampak lebih dekat dari tempat itu, namun sebenarnya cukup jauh, sekitar setengah jam perjalanan. Tetapi awak perahu menolak dengan alasan gelombangnya akan semakin besar. Akhirnya, kami pun menyerah dan memilih untuk tidur sejenak di atas perahu dininabobokan ayunan gelombang laut.
Pindah lokasi
Hanya sekitar dua jam kami beristirahat, selepas shalat subuh di atas perahu, kami kembali mencoba membujuk awak perahu untuk bergerak ke wilayah yang kami rencanakan sebelum keberangkatan kami dari Bandung, spot “Obor mati” (puing bekas kilang pemboran) di sekitar anjungan kilang minyak utama (Obor Perancis). Kembali awak perahu menolak dengan alasan yang sama bahwa ombaknya akan semakin besar jika ke sana. Kami mulai merasa sedikit kesal, tapi berusaha untuk tetap lembut dan terus membujuk awak perahu. Akhirnya, dengan wajah yang merasa terpaksa, awak perahu pun mau membawa kami ke lokasi itu. Dan ... lagi-lagi perahu berhenti beberapa puluh meter dari spot yang diinginkan, awak perahu menurunkan jangkar di sana dengan alasan tidak bisa menambatkan tali ke tiang anjungan/kilang minyak, sedangkan kami menginginkan posisi perahu dekat dengan puing bekas kilang tersebut. Kami pun mencoba memberitahu caranya, namun mereka tetap menolak. Tidak lama berselang, tiba-tiba kapal patroli kilang minyak mendekati kami dan meminta kami untuk pindah dari tempat itu, karena lokasi itu adalah jalur lintasan mereka katanya. Kami pun terpaksa pindah dan mencari spot lain. Akhirnya kami putuskan untuk memilih spot di pelampung tempat penambatan kapal yang letaknya setengah jam perjalanan dari posisi tadi dengan pertimbangan awak perahu akan mampu mengikatkan perahu ke tali pelampung tersebut. Dengan susah payah, akhirnya berhasil juga awak perahu menambatkan perahu ke tali pelampung itu dengan dibantu beberapa orang dari anggota tim GMBA.
Meskipun sedikit kesal dengan perilaku awak perahu, akhirnya kami pun bisa mulai beraktivitas sebagai petualang “Giriwil Mania” dengan teknik memancing dasar (memancing ikan karang di dasar laut). Kedalaman spot ini sekitar 30 meter, arus air laut di bawah terasa begitu kuat. Beberapa saat kemudian ... alhamdulillah strike dialami admin dan berusaha memutar reel mengangkat ikan yang terumpan ke permukaan, lalu...ha...ha...ha...seekor ikan trisi (Caesionidae varilineata) seukuran tiga jari yang terangkat. Lumayan.... Beberapa saat kemudian diikuti oleh pak Pratman yang strike, ikan yang sejenis didapatkannya, begitu pula anggota tim GMBA yang lainnya. Sekitar satu jam berlalu, tiba-tiba pak Endang menarik jorannya dengan kuat dan ujung jorannya begitu melengkung ke bawah, ... “Besar nih tangkapannya”, pikirku. dan ternyata seekor ikan etong (Abalistes stellaris) dengan lebar lebih dari telapak tangan berhasil diangkatnya.
Sekitar pukul sembilan pagi, kami meminta pindah lokasi dan membujuk awak perahu mencoba menambatkan perahu ke puing “obor mati”. Kali ini, awak perahu mau melakukannya, dan meskipun dengan susah payah akhirnya berhasil juga. Kami pun kembali memancing dengan santai, sekali-kali tertawa, sekali-kali serius memperhatikan joran. Yah, memang tidak mudah mendapatkan strike pada saat-saat seperti itu. Meskipun gelombang air laut tidak tinggi, tetapi arus air yang kencang dan air yang agak keruh memungkinkan ikan berlindung ditempat-tempat tertentu yang mungkin sulit untuk diketahui (kecuali dengan bantuan fishfinder) atau dijangkau. Namun demikian, kami masih tetap diberi kenikmatan.
Bravo buat para angler GMBA
Beberapa anggota tim berhasil strike dan mendapatkan ikan yang cukup menjanjikan. Pak Edi berhasil menangkap seekor ikan gatet atau kuwe yang oleh para pemancing biasa disebut GT (Giant Treavallyrs/Caranx ignobilis) dengan lebar sejengkal tangan orang dewasa. Anggota tim yang lainnya ada yang berhasil mendapatkan ikan baronang susu (Siganus sp.), ikan kerapu (Epinephelus fuscguttatus), ikan kurisi (Nemipterus nemotophorus), dan ikan selar (Selaroides leptolepis). Di lokasi ini admin mendapatkan dua ekor selar panjang rata-rata sekitar 25 cm selain beberapa ekor ikan kerong-kerong (Therapon therap). Meskipun tidak sering strike, tetapi kami merasa senang dan bisa tertawa-tawa bersenda gurau bersama. “Ngeuunah euuy...”, begitulah kami bercanda.
Satu jam lebih kami bergumul di lokasi tersebut, dan selanjutnya memutuskan pindah ke spot ketiga, pelampung kembar. Sementara awak perahu mengendalikan perahu ke spot ketiga, para anggota tim GMBA makan bersama, nasi timbel, pindang, goreng tahu, perkedel kentang, kerupuk, mentimun, dan sambal menjadi santapan yang lezat di tengah cuaca yang cerah namun tidak terik itu. Alhamdulillah, kami diberi kenikmatan oleh Yang Maha Kuasa yang sungguh tidak dapat tergantikan oleh apapun.
Trisi versus GT
Tiba di spot yang dituju, sementara para awak perahu dipersilahkan makan, kami kembali bertempur. Syukurlah...di sini cukup banyak yang strike. Meskipun hanya dua jenis yang berhasil ditangkap, ikan gerok atau yang sering disebut kakap putih (Lates calcalifer) dan ikan kerong-kerong, namun ukurannya cukup besar-besar, kira-kira bobotnya ½ kg. Di sini kemampuan teknik memancing di laut menjadi andalan ketika kondisi air laut relatif keruh. Pak Edi lah yang biasanya berupaya untuk menerapkan berbagai teknik itu, terutama dalam penggunaan peralatan. Sementara admin dengan segala keterbatasan berusaha mencoba beberapa teknik penggunaan umpan. Hasilnya...lumayan juga.
Lewat waktu dzuhur, selepas shalat dzuhur di atas perahu, kami pun berlayar pulang kembali ke daratan. 1½ jam perjalanan kali ini ditempuh untuk bisa mencapai daratan. Entah mengapa, waktu tempuhnya terasa lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena dorongan angin laut yang saat itu relatif kencang membantu pergerakan lajunya perahu yang mengandalkan dua mesin tempel itu.

Kecapean kali yee...
Selama perjalanan kembali ke daratan itu, beberapa dari kami, termasuk admin sendiri tertidur pulas sampai-sampai tidak tahu diambil gambarnya oleh anggota tim yang lain...tahu-tahu sudah dikirim ke medsos group GMBA ... NGAKAK-lah semua...Yah itulah kenikmatan berpetualang dengan GMBA hari itu.
Alhamdulillaah...

Saturday, October 29, 2016

MENITI BAHARI LEPAS PANTAI ERETAN KULON



By: Admin

Aktivitas memancing mungkin tidak asing bagi para angler. Kesehatan fisik, keterampilan teknis, keuletan, ketekunan, kesabaran, dan kesiapan peralatan selalu menjadi modal dasar aktivitas ini. Memancing di kolam/empang, sungai, atau danau, mungkin banyak orang yang terbiasa. Nah kalau beraktivitas dalam sea fishing...lain cerita.
Agan dan Endén...
Kali ini admin coba berbagi cerita tentang suatu kawasan dimana admin bersama tim “PERSAMI GERLONG GIRANG BANDUNG” yang dikemudian hari berganti nama menjadi “GIRIWIL MANIA BANDUNG ANGLER” mencoba meniti Laut Jawa lepas pantai Eretan Kulon Kabupaten Indramayu.
...Oh ya... Istilah PERSAMI dalam nama tadi bukan “Perkemahan Sabtu-Minggu” lho... Tapi itu singkatan dari “Persatuan Mancing” ceritanya...
Tepatnya, tanggal 25 Maret 2011 kami berangkat ke salah satu kawasan di Kabupaten Indramayu, yaitu pantai Eretan Kulon, dalam rangka “refreshing” dan menyalurkan hobi kami, sea fishing, di lepas pantai. Berangkat dari Gerlong Girang Bandung sekitar pukul 13.30 WIB beranggotakan tujuh orang dengan perlengkapan memancing yang boleh dikatakan gak canggih-canggih amat, tapi cukup memadai untuk melakukan aktivitas sea fishing. Joran dengan kelengkapannya, termos tempat ikan hasil tangkapan dibawa serta. Hal terpenting yang dibawa adalah pakan...eh...makanan sebagai perbekalan dan dompet serta isinya...ini penting banget Gan...
Perjalanan darat ditempuh selama sekitar tiga setengah sampai empat jam melintasi Subang-Pamanukan. Di Pamanukan ini kami biasa untuk menyempatkan beristirahat sejenak, memberi kesempatan kepada mereka yang mau makan atau yang perlu membeli perlengkapan memancing...Biar gak nyesel gara-gara kekurangan perlengkapan nantinya...
Penduduk Desa Eretan Kulon
Tiba di Desa Eretan Kulon sekitar pukul 17.00 WIB. Desa ini merupakan salah satu daerah yang tercakup ke wilayah Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu dengan letak astronomisnya berada pada 6º 18’52.54” LS dan 108º 02’46.86” BT. Secara morfologis, daerahnya berada pada ketinggian rata-rata 1,2 meter dpl. dan merupakan daerah dataran rendah pantai. Mayoritas penduduk di desa ini adalah sebagai nelayan, buruh nelayan, dan pedagang. Di desa inilah kami beristirahat sejenak serta shalat ashar yang hampir kehabisan waktunya...he...he.
Menyiapkan peralatan
Di desa ini, kami mempunyai langganan perahu yang sudah biasa kami gunakan untuk sea fishing di Eretan. Mas nelayan ini sudah siap menyambut kedatangan kami sore itu. Sementara Mas nelayan mempersiapkan perahu dan perlengkapannya, kami mencari dulu umpan berupa udang laut (kelas Malacostraca). Banyak macamnya. Penduduk setempat biasa menyebut jenis-jenisnya seperti udang peci, udang grosok, dan sebagainya. Katanya, yang paling bagus untuk umpan ikan laut adalah jenis udang peci, tapi saya pake udang grosok aja deh... biar murah...he...he. Selain umpan, kami pun mempersiapkan es balok sebagai pengawet ikan tangkapan agar tidak cepet busuk.
Kami bersantai di desa ini hinga waktu shalat maghrib, dan selepas itu, barulah kami berlabuh ke tengah laut melalui sebuah kanal yang menjadi pintu keluar-masuk ke desa ini dari arah laut. Di tepi kiri dan kanan kanal ini berjejer bronjong batu beton sebagai pemecah gelombang agar tidak terlalu mengikis lahan pesisir. Di ujung bronjong tersebut berdiri menara lampu sebagai mercu suar mini penanda “gerbang” atau pintu kanal. Pemandangan di sekitarnya tidak begitu nampak karena hari telah larut. Sementara itu, gelombang laut tidak begitu besar karena baru memasuki masa musim kemarau di Indonesia atau sedang “musim timur”, begitu penduduk nelayan Eretan menyebutnya.
CO kita waktu itu (with black hat) Pak Supardi lagi istirahat di bawah terik matahari
Perjalanan ke spot pertama, yaitu di sekitar area kilang minyak terbesar di lepas pantai Eretan yang biasa disebut oleh para nelayan sebagai “Obor Perancis” memerlukan waktu perjalanan sekitar tiga jam menggunakan perahu dengan dua mesin tempel berkekuatan 21 PK. Selama perjalanan itu, kami menyempatkan untuk tidur dulu di atas perahu, termasuk CO kami, Pak Pardi, seseorang yang telah melanglang bahari dalam kegiatan memancing di laut cukup lama, sementara nakoda perahu dan crew-nya mengendalikan laju perahu.
Spot pertama "Obor Perancis"
Tiba di spot yang dituju, crew perahu berusaha menambatkan tali kekang perahu pada sebuah tiang bekas anjungan minyak yang sudah tidak berfungsi. Nelayan di sana biasa menyebutnya dengan sebutan “obor mati”. Di lokasi ini kegelapan malam tidak begitu pekat, karena masih mendapat sedikit cahaya dari lampu-lampu pada kilang minyak utama. Setelah perahu tertambat dengan baik, barulah kami mulai memancing. Harap-harap cemas, kami menunggu strike...dan tidak lama kemudian...pak Pratman mendapatkan strike pertama. Ujung jorannya tampak melengkung ke arah air. Dia terus berusaha mengangkat hewan laut yang mengait di mata kailnya.

Ikan Samadar/Baronang (Siganus sp.)
Sekitar 1 menit lebih, akhirnya tangkapan pertamanya berhasil diangkat...seekor ikan Baronang (Siganus sp.), ada juga yang menyebutnya dengan nama ikan samadar. Lumayan, lebarnya sekitar dua telapak tangan. Sementara saya pun sudah mulai sibuk dengan menggulung reel joran, dua ekor ikan sekaligus...ikan ekor kuning sebesar tiga jari dan ikan kerapu sebesar empat jari...lumayan biarpun kecil-kecil. Begitu juga dengan yang lainnya sudah sibuk menarik tali pancing. Namun, kesibukan itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam. Selanjutnya...perlu kesabaran...dan kami terus berusaha dan menunggu. Malam semakin larut, sebagian dari kami memutuskan untuk tidur, sebagian lagi tetap bertahan untuk terus memancing di kegelapan malam. Hanya suara deburan ombak dan dengungan mesin kilang minyak yang menemani kami. Para crew perahu pun tampaknya tertidur pulas dininabobokan oleh ayunan gelombang Laut Jawa.
Sedikit cerita tentang dasar laut lepas pantai Eretan Kulon ini merupakan dasar laut dengan kemiringan lereng yang melandai dari arah darat ke tengah laut. Tidak banyak terumbu karang yang tumbuh di sini, selain karena kondisi airnya yang kurang jernih, terutama yang mendekati pesisir sebagai akibat endapan lumpur dari sungai, juga sering terganggu oleh jaring ikan nelayan, karena kedalaman airnya yang hanya mencapai 30 sampai 50 meter dari permukaan air laut. Di spot pertama tempat kami berada yang jaraknya sekitar 50 mil laut dari pesisir saja, kedalamannya hanya sekitar 30-40 meter dari permukaan air laut. Hanya di daerah-daerah sekitar anjungan/kilang minyak saja yang pertumbuhaan terumbu karangnya cukup lestari. Itulah sebabnya, ketika memancing di kawasan ini, kami selalu ingin mendekati kilang-kilang minyak tersebut, karena ikan tentunya akan lebih banyak ditemukan di daerah seperti itu. Namun, demi keamanan, baik bagi kami maupun bagi keberadaan kilang minyak itu sendiri, ada aturan bahwa perahu nelayan tidak boleh mendekati kilang minyak tersebut dalam radius 500 meter.Hal itu bisa dimengerti, karena kita mungkin tidak akan tahu jika terjadi kebocoran gas atau sejenisnya yang mungkin dapat menyebabkan malapetaka.
Tiba-tiba saja salah seorang dari kami terperanjat karena jorannya bergerak-gerak cukup keras. Rupanya, dia sambil tidur kailnya tidak diangkat, sehingga ada ikan yang memakan umpannya. Dia berusaha untuk menariknya, dan...wah wah wah... seekor kakap merah (Lutjanus campechanus) berhasil diangkatnya. Besarnya lumayan, mungkin sekitar 2 kg.
Memasuki waktu shalat subuh, terdengar alunan adzan melalui speacker dari arah anjungan kilang minyak. Kami pun memutuskan untuk menunaikan shalat subuh di atas perahu dengan berwudlu menggunakan air laut. Meskipun terasa asin, tapi terasa segar, dan suci tentunya. Shalat terpaksa dilakukan dengan cara duduk. Jika berdiri, kemungkinan bisa terjatuh karena perahu terombang-ambing gelombang air laut. Selepas shalat subuh, aktivitas memancing pun kembali dilakukan.
Ekor kuning, batotot, dan selar hasil tangkapan pagi itu
Menjelang pagi hari, tampaknya setiap orang sibuk mengangkat joran masing-masing. Rupanya cukup banyak ikan yang terangkat...seru juga...Bahkan beberapa di antaranya ada yang mendapatkan ikan etong yang cukup besar. Saya sendiri mendapatkan cukup banyak ikan selar (Selaroides leptolepis), ikan ekor kuning (Caesionidae varilineata), ikan bentol (Lates calcarifer), dan beberapa jenis ikan kerapu. Waktu berlalu, kesibukan mengangkat joran pun mulai berkurang, dan akhirnya kami pindah ke lokasi lain. Lokasi yang dituju tetap tidak menjauhi anjungan/kilang minyak, cukup banyak kilang minyak di kawasan perairan ini. Ketika berpindah lokasi ini, kami memutuskan untuk makan-makan dulu...nikmat juga rasanya bisa makan berjamaah di atas perahu yang melaju memecah gelombang laut. Sementara para crew perahu sibuk mengendalikan perahunya. Di spot berikutnya, kali ini lebih ke arah utara, ke arah tengah laut, hasilnya banyak strike yang terjadi ...saaangat seru... Sampai-sampai teriknya matahari seakan-akan tidak terasa. Beberapa lokasi lain kami singgahi, dan setiap kali berpindah tempat, saya menikmati pemandangan unik dimana sejauh mata pemandang, yang terlihat hanyalah ujung pandangan antara pertemuan cakrawala muka air laut dengan langit. Seolah-olah kami berada di tengah-tengah sebuah bidang lingkaran air laut. Tidak tampak daratan sedikit pun.
Mejeng dikit deh...
Waktu dzuhur pun tidak terasa telah tiba dan kami lalui dengan shalat di atas perahu. Selepasnya, kegiatan fishing kembali dilakukan hingga menjelang pukul 14.00 sebelum kami semua memutuskan untuk pulang kembali ke daratan.
Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan mengambil beberapa gambar pemandangan di sepanjang perjalanan ke darat. Beberapa mil mendekati pesisir, kami melihat sero-sero yang dibuat dari batang-batang bambu berjejer. Katanya sero ini merupakan tempat menjebak udang atau ikan. Biasanya dibangun pada kedalaman sekitar 5 – 10 meter...hmmm...nikmat rasanya merasakan segarnya tiupan angin di tengah laut ketika perahu ini bergerak, berbeda dengan ketika perahu sedang tertambat atau turun jangkar... panas sekali rasanya.
Keindahan pemandangan tengah laut pesisir Eretan dihiasi kilang-kilang pemboran minyak bumi
Akhirnya kami tiba juga di darat tempat kami berangkat semalam sebelumnya, dan kami pun turun dari perahu dengan kepuasan yang sulit untuk dibayangkan. Alhamdulillah...