Tuesday, December 31, 2024

STRIKE BERTUBI-TUBI DI PERAIRAN LAUT DANGKAL

By: Admin 

Baraya dan sobat mancing...jumpa lagi dengan admin GMBA

Sebelumnya, mimin mohon maaf baru bisa lagi memuat tulisan di blog ini, maklum yang namanya kehidupan akan senantiasa bergelombang bagaikan ombak di tengah samudera yang tiada henti berubah. Semoga saja kita semua selalu berada dalam lindungan dan hidayah-Nya, aamiin.

Baiklah sobat-sobat semua, kali ini mimin akan membahas suatu petualangan memancing di perairan laut dangkal. Lokasinya masih di sekitaran pantai utara Jawa Barat yang merupakan pesisir lepas pantai yang landai dan sangat berlumpur.

Petualangan kali ini, squad GMBA mencoba menelusuri lepas pantai Tanjung Cirewang, sebuah wilayah yang terbentuk dari endapan pantai yang menyembul ke permukaan air laut, termasuk ke dalam wilayah Desa Pangarengan Kecamatan Legonkulon Kabupaten Subang. Wilayah daratan pantai yang secaras geologis termasuk pada formasi Subang (terbentuk pada masa Miosen Tengah, sekitar 7,2 juta hingga 13,8 juta tahun yang lalu) ini sebagian besar lapisan daratannya merupakan endapan lempung (tanah liat berkarbonat), sehingga wajar apabila wilayah pesisir Tanjung Cirewang hampir seluruhnya merupakan tanah berlumpur.

Kondisi jalan akses dari Desa Pangarengan ke pantai Cirewang
Ketika musim penghujan terjadi di wilayah Pulau Jawa, jalan akses ke daerah ini sangatlah licin dan berlumpur, kecuali jalan-jalan yang menghubungkan Pondok Bali dan Pangarengan yangsudah direhabilitasi dengan jalan beton. Kali ini, squad GMBA menelusuri jalan akses ke pantai Cirewang sekitar pukul 20.00 WIB. Jalan yang sempit, gelap gulita, diapit hutan man
grove (rawa bakau) di sisi kanan-kirinya, membuat perjalanan yang sungguh mengasikan sekaligus memicu adrenalin. Kendaraan kami sempat stuck di tengah-tengah lumpur yang cukup dalam, …waduuh…kudu leledokan ngadorong atuh euy…, sehingga para anggota squad terpaksa harus turun untuk mendorongnya… Setengah jam berlalu, akhirnya kami bersyukur dapat lolos dari jebakan lumpur ini, dan 20 menit kemudian tiba dilokasi dengan selamat. Segala sesuatu harus ditempuh dengan perjuangan… Sepakat bro…!?

Menyiapkan alat tempur
Di teras sebuah warung, seorang nelayan yang telah kami hubungi sebelumnya tengah menunggu. Di situ kami istirahat sejenak dan menikmati makan malam yang kami bekal sambil bercanda. Sejurus kemudian, kami segera mempersiapkan alat-alat tempur, karena harus segera berangkat ke tengah laut. Jika terlalu malam, air laut akan segera surut, kemungkinan perahu bisa stuck di lumpur kanal. Daan … hal itu pun memang terjadi. Jadi kami terpaksa bermalam di tengah-tengah kanal hingga dini hari. Setelah air laut kembali pasang sekitar pukul 3 dini hari, barulah bisa melanjutkan perjalanan ke tengah laut.

Namun karena tiupan angin cukup kencang, kami terpaksa berhenti di sekitar muara kanal. Karena jika dipaksakan bergerak ke tengah laut, kemungkinan besar gelombang lautnya tinggi. Kami sedikit mendekati “sero” agar bisa memancing sambal menunggu waktu subuh.

Sero - Perangkap ikan tradisional dari bambu dan
jaring (di latar belakang)

Sero adalah perangkap ikan dari bambo yang ditancapkan berjajar membentuk lorong dan dilengkapi dengan jaring. Sero ini merupakan perangkap ikan tradisional yang statis (tidak dipindah-pindah). Biasanya nelayan akan memanen ikan yang terperangkap di sana selang 2 atau 3 hari.

Di sekitar sero inilah kami mulai melempar kail. Kedalaman air di sini hanya sekitar 5 m, dan airnya agak keruh karena lumpur. Ikan-ikan yang dapat ditangkap di sini umumnya ikan-ikan yang berhabitat di perairan payau (karena masih bercampur dengan air tawar dari kanal) dan berlumpur, seperti ikan sembilang atau Eel tailed catfish (Plotosus canius, Hamilton, 1822), kedukang atau Sunda sea catfish (Arius sagor, Hamilton, 1822), manyung (Arius thalassinus atau Netuma thalassinus, Rüppell, 1837) yang biasa dijadikan asin jambal, blama atau gulamah atau Atlantic croaker (Linnaeus, 1766), giligan atau Ray-finned fish (Panna microdon, Bleeker, 1849), dan bahkan ikan pari pasir atau pari ketoka kecil (Brevitrygon heterura, Bleeker, 1852).

Di sekitaran sero ini, kami rata-rata mendapatkan tangkapan ikan blama yang kecil-kecil. Mimin sendiri berhasil mengangkat ikan sembilang dengan bobot sekitar 1 kg, kedukang, dan blama yang cukup besar (sekitar 0,5 kg). Jenis ikan yang terakhir itu berhasil landed saat fajar mulai menyingsing.

Blama (Johnius carouna, Cuvier, 1830) yang
terpancing di sekitar sero

Selepas shalat subuh, squad GMBA melaju ke tengah dengan lama perjalanan sekitar ¾ jam menuju spot pertama di kelip (buoy) merah. Di sini kedalaman air sekitar 15 sampai 20 m, airnya cukup jernih, kondisi arus dan gelombang cukup baik untuk memancing. Lemparan pertama mimin disambut kerong-kerong (Terapon jarbua, Forsskål, 1775), …yah lumayan lah, tidak terlalu kecil juga tidak besar… Anggota squad yang lain pun umumnya mendapatkan ikan serupa diselingi beberapa ikan dasar seperti ikan ekor kuning atau kuniran (Caesio teres, Lacépède, 1801).

Ikan ekor kuning ini adalah penghuni tubir-tubir karang yang tersebar di beberapa titik di lepaspantai Cirewang. Itulah sebabnya spot yang kami tuju untuk memancing dasaran adalah spot-spot yang memungkinkan terbentuknya terumbu karang sebagai tempat berlindungnya ikan dari arus laut. Karena di laut pantai utara P. jawa, dasar lautnya sebagian besar berupa lumpur dan pasir. Spesies lain dari ikan ekor kuning yang dapat ditemukan di perairan laut di Indonesia di antaranya spesies Upeneus vittatus (Forsskål, 1775), Upeneus sulphureus (G. Cuvier, 1829), dan Upeneus sundaicus (Bleeker, 1855).

Di sini pak Endang mendapatkan kerong-kerong yang lumayan agak besar, sementara pak Mumu strike ikan gerok atau Saddle grunt (Pomadasys maculatus, Bloch, 1793) yang besar. …Meni ngeunah kitu narikna ,,,nyuuud …nyuud…

Gerok (Pomadasys maculatusBloch, 1793)

Dua jam waktu berlalu tanpa terasa, kami pun memutuskan untuk pindah spot. Sementara nakhoda perahu mengendalikan peruhunya saat berpindah spot, kami memanfaatkan waktu untuk sarapan pagi, meskipun sudah terlalu siang untuk itu …hehe. Nasi timbel, goreng asin sepat, bonteng ngora, goreng tahu, sambel tarasi, jeung goreng hayam … menjadi pendorong semangat. …ah dasar nu rewog…hehe

Tiba di spot kedua, kami telah selesai sarapan dan langsung lempar umpan. Sementara kru perahu dipersilahkan makan. Seperti halnya di spot pertama, spot kedua ini pun merupakan titik tempat buoy, namun sedikit jauh ke tengah. …Gelombangnya rek…mulai terasa berguncang. Di sini mimin memanfaatkan umpan kontrekan untuk menangkap ikan-ikan selar atau Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis, G. Cuvier, 1833). Serunya tiada tara, baru lempar, umpan masih melayang, langsung disambar. Begitu diangkat ke permukaan, …wuiiih rantuyy

Ikan selar (Selaroides leptolepisG. Cuvier, 1833)

Ikan selar mempunyai panjang maksimal sekitar 22 cm (umumnya kurang dari 15 cm). Ikan ini umumnya ditemukan tidak jauh dari pantai yang tersebar di pesisir dan laut-laut pedalaman Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, Indo Pasifik Barat, Semenanjung Arabia, Teluk Persia, sisi barat Samudera Pasifik, perairan utara Laut Jepang, New Caledonia, Vanuatu, dan di sepanjang pesisir Benua Australia.

Ikan ini berenang dalam gerombolan besar di atas dasar laut yang berlumpur pada keda
laman kurang dari 50
m. Itulah sebabnya ketika umpan masih melayang, sudah langsung disambar. Yah seru deh pokoknya.

Hampir 2 jam berlalu, kami pun berpindah spot sedikit mendekati titik pemberangkatan. Menurut nakhoda perahu, spot ini adalah tempatnya ikan-ikan gerok. Sayangnya, mimin kurang beruntung di sini. Tapi veteran kita yang satu ini berhasil strike ikan besar. Sunglir atau rainbow yellowtail yang dijuluki sebagai “The Rainbow Runner” (Elagatis bipinnulata, Quoy & Gaimard, 1825). Spesies ini adalah satu-satunya anggota genus Elagatis, yang berkerabat dekat dengan ikan kuwe batu (Seriola dumerili, Risso, 1810).

Ikan sunglir
(Elagatis bipinnulata, Quoy & Gaimard, 1825)

Lewat waktu dzuhur, sekitar pukul 14.00 WIB, kami pun berlayar pulang kembali ke daratan. Kira-kira 2 jam perjalanan kali ini ditempuh untuk bisa mencapai daratan. Entah mengapa, waktu tempuhnya terasa lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena dorongan arus dan angin laut yang saat itu relatif kencang membantu pergerakan lajunya perahu. Selama perjalanan kembali ke daratan itu, beberapa dari kami, termasuk mimin sendiri tertidur pulas.

Tiba di dermaga, kami pun membereskan semua alat tempur dan kembali ditata rapi didalam mobil yang akan membawa kami merapat ke Bandung.



Terima kasih … salam satu joran