By: Admin
Baraya dan sobat mancing...jumpa lagi dengan admin GMBA
Sebelumnya, mimin mohon maaf baru bisa lagi
memuat tulisan di blog ini, maklum yang namanya kehidupan akan senantiasa
bergelombang bagaikan ombak di tengah samudera yang tiada henti berubah. Semoga saja kita semua selalu berada dalam lindungan dan
hidayah-Nya, aamiin.
Baiklah sobat-sobat semua, kali ini mimin akan membahas suatu petualangan
memancing di perairan laut dangkal. Lokasinya masih di sekitaran pantai utara Jawa
Barat yang merupakan pesisir lepas pantai yang landai dan sangat berlumpur.
![]() |
| Kondisi jalan akses dari Desa Pangarengan ke pantai Cirewang |
grove (rawa bakau) di sisi kanan-kirinya, membuat perjalanan yang sungguh mengasikan sekaligus memicu adrenalin. Kendaraan kami sempat stuck di tengah-tengah lumpur yang cukup dalam, …waduuh…kudu leledokan ngadorong atuh euy…, sehingga para anggota squad terpaksa harus turun untuk mendorongnya… Setengah jam berlalu, akhirnya kami bersyukur dapat lolos dari jebakan lumpur ini, dan 20 menit kemudian tiba dilokasi dengan selamat. Segala sesuatu harus ditempuh dengan perjuangan… Sepakat bro…!?
![]() |
| Menyiapkan alat tempur |
Namun karena tiupan angin cukup kencang, kami terpaksa berhenti di sekitar muara kanal. Karena jika dipaksakan bergerak ke tengah laut, kemungkinan besar gelombang lautnya tinggi. Kami sedikit mendekati “sero” agar bisa memancing sambal menunggu waktu subuh.
![]() |
| Sero - Perangkap ikan tradisional dari bambu dan jaring (di latar belakang) |
Sero adalah perangkap ikan dari bambo yang ditancapkan berjajar membentuk
lorong dan dilengkapi dengan jaring. Sero ini merupakan perangkap ikan tradisional
yang statis (tidak dipindah-pindah). Biasanya nelayan akan memanen ikan yang
terperangkap di sana selang 2 atau 3 hari.
Di sekitar sero inilah kami mulai melempar kail. Kedalaman air di
sini hanya sekitar 5 m, dan airnya agak keruh karena lumpur. Ikan-ikan yang
dapat ditangkap di sini umumnya ikan-ikan yang berhabitat di perairan payau
(karena masih bercampur dengan air tawar dari kanal) dan berlumpur, seperti
ikan sembilang atau Eel tailed catfish (Plotosus canius, Hamilton,
1822), kedukang atau Sunda sea catfish (Arius sagor, Hamilton,
1822), manyung (Arius thalassinus atau Netuma thalassinus, Rüppell,
1837) yang biasa dijadikan asin jambal, blama atau gulamah atau Atlantic
croaker (Linnaeus, 1766), giligan atau Ray-finned fish (Panna
microdon, Bleeker, 1849), dan bahkan ikan pari pasir atau pari ketoka kecil
(Brevitrygon heterura, Bleeker, 1852).
Di sekitaran sero ini, kami rata-rata mendapatkan tangkapan ikan blama
yang kecil-kecil. Mimin sendiri berhasil mengangkat ikan sembilang dengan bobot
sekitar 1 kg, kedukang, dan blama yang cukup besar (sekitar 0,5 kg). Jenis ikan
yang terakhir itu berhasil landed saat fajar mulai menyingsing.
![]() |
| Blama (Johnius carouna, Cuvier, 1830) yang terpancing di sekitar sero |
Selepas shalat subuh, squad GMBA melaju ke tengah dengan lama
perjalanan sekitar ¾ jam menuju spot pertama di kelip (buoy) merah. Di
sini kedalaman air sekitar 15 sampai 20 m, airnya cukup jernih, kondisi arus
dan gelombang cukup baik untuk memancing. Lemparan pertama mimin disambut
kerong-kerong (Terapon jarbua, Forsskål, 1775), …yah lumayan lah,
tidak terlalu kecil juga tidak besar… Anggota squad yang lain pun umumnya
mendapatkan ikan serupa diselingi beberapa ikan dasar seperti ikan ekor kuning
atau kuniran (Caesio teres, Lacépède, 1801).
Ikan ekor kuning ini adalah penghuni tubir-tubir karang yang
tersebar di beberapa titik di lepaspantai Cirewang. Itulah sebabnya spot yang kami
tuju untuk memancing dasaran adalah spot-spot yang memungkinkan terbentuknya
terumbu karang sebagai tempat berlindungnya ikan dari arus laut. Karena di laut
pantai utara P. jawa, dasar lautnya sebagian besar berupa lumpur dan pasir.
Spesies lain dari ikan ekor kuning yang dapat ditemukan di perairan laut di
Indonesia di antaranya spesies Upeneus vittatus (Forsskål, 1775), Upeneus sulphureus
(G. Cuvier, 1829), dan Upeneus sundaicus (Bleeker, 1855).
Di sini pak Endang mendapatkan kerong-kerong yang lumayan agak besar, sementara pak Mumu strike ikan gerok atau Saddle grunt (Pomadasys maculatus, Bloch, 1793) yang besar. …Meni ngeunah kitu narikna ,,,nyuuud …nyuud…
![]() |
| Gerok (Pomadasys maculatus, Bloch, 1793) |
Dua jam waktu berlalu tanpa terasa, kami pun memutuskan untuk
pindah spot. Sementara nakhoda perahu mengendalikan peruhunya saat berpindah
spot, kami memanfaatkan waktu untuk sarapan pagi, meskipun sudah terlalu siang
untuk itu …hehe. Nasi timbel, goreng asin sepat, bonteng ngora, goreng tahu,
sambel tarasi, jeung goreng hayam … menjadi pendorong semangat. …ah dasar nu
rewog…hehe…
Tiba di spot kedua, kami telah selesai sarapan dan langsung lempar umpan. Sementara kru perahu dipersilahkan makan. Seperti halnya di spot pertama, spot kedua ini pun merupakan titik tempat buoy, namun sedikit jauh ke tengah. …Gelombangnya rek…mulai terasa berguncang. Di sini mimin memanfaatkan umpan kontrekan untuk menangkap ikan-ikan selar atau Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis, G. Cuvier, 1833). Serunya tiada tara, baru lempar, umpan masih melayang, langsung disambar. Begitu diangkat ke permukaan, …wuiiih rantuyy …
![]() |
| Ikan selar (Selaroides leptolepis, G. Cuvier, 1833) |
Ikan selar mempunyai panjang maksimal sekitar 22 cm (umumnya kurang
dari 15 cm). Ikan ini umumnya ditemukan tidak jauh dari pantai yang tersebar di
pesisir dan laut-laut pedalaman Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, Indo
Pasifik Barat, Semenanjung Arabia, Teluk Persia, sisi barat Samudera Pasifik,
perairan utara Laut Jepang, New Caledonia, Vanuatu, dan di sepanjang pesisir Benua
Australia.
Ikan ini berenang dalam gerombolan besar di atas dasar laut yang
berlumpur pada keda
laman kurang dari 50 m. Itulah sebabnya ketika umpan masih
melayang, sudah langsung disambar. Yah seru deh pokoknya.
Hampir 2 jam berlalu, kami pun berpindah spot sedikit mendekati titik pemberangkatan. Menurut nakhoda perahu, spot ini adalah tempatnya ikan-ikan gerok. Sayangnya, mimin kurang beruntung di sini. Tapi veteran kita yang satu ini berhasil strike ikan besar. Sunglir atau rainbow yellowtail yang dijuluki sebagai “The Rainbow Runner” (Elagatis bipinnulata, Quoy & Gaimard, 1825). Spesies ini adalah satu-satunya anggota genus Elagatis, yang berkerabat dekat dengan ikan kuwe batu (Seriola dumerili, Risso, 1810).
![]() |
| Ikan sunglir (Elagatis bipinnulata, Quoy & Gaimard, 1825) |
Lewat waktu dzuhur, sekitar pukul 14.00 WIB, kami pun berlayar pulang kembali ke daratan. Kira-kira 2 jam perjalanan kali ini ditempuh untuk bisa mencapai daratan. Entah mengapa, waktu tempuhnya terasa lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena dorongan arus dan angin laut yang saat itu relatif kencang membantu pergerakan lajunya perahu. Selama perjalanan kembali ke daratan itu, beberapa dari kami, termasuk mimin sendiri tertidur pulas.
Tiba di dermaga, kami pun membereskan semua alat tempur dan kembali
ditata rapi didalam mobil yang akan membawa kami merapat ke Bandung.
Mancing Dasaran - Joran Melengkung Bikin Greget
Terima kasih … salam satu joran






